15 Oktober 2012

Mengapa Kita Merasa Kehilangan Radio Show?


Semalam, sebuah acara musik yang bernama Radio Show telah memberikan pernyataannya. Pernyataan yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar untuk saya.  Apakah benar acara ini akan berakhir? Apa sebabnya? Siapakah orangnya, yang tega menutup acara nan sudah terlanjur besar  ini? Namun semua pertanyaan yang ada di benak tak mampu memuaskan saya. Daripada saya sibuk bertanya-tanya, lebih baik saya menceritakan sedikit tentang apa yang telah terjadi selama ini, ketika Radio Show masih mengudara; On Air.

Radio Show adalah sebuah program yang mengimplentasikan konsep radio untuk televisi. Ketika kata 'radio' menjadi sebuah konsep, maka pemilihan musik pun menjadi beragam. Tak seperti kebanyakan acara musik di televisi yang hanya menampilkan musisi atau video klip yang itu-itu saja, Radio Show justru menampilkan para musisi dan video klip dengan berbagai genre musik yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya. Sehingga, Radio Show dapat dengan mudah menarik perhatian dan hati para penonton, seolah acara ini memiliki pesona yang berbeda ketika pertama kali muncul.

Sys NS, adalah pembawa acara pertama di Radio Show. Pada saat itu acara ini berlokasi di Kemang, dengan panggung yang terlihat sempit dan seadaanya, namun dengan jumlah penonton yang terlihat banyak dan semakin bertambah banyak, sehingga lokasi terasa lebih seperti 'gig' daripada lokasi shooting untuk acara televisi.

Kemudian lokasi dipindahkan ke Kuningan, dengan area yang lebih besar dan mampu menampung liarnya para penonton yang datang. Ketika Radio Show berpindah ke Kuningan, acara ini tak lagi dibawakan oleh Sys NS. Dan tersebutlah sejumlah nama pembawa acara yang sudah tak asing lagi di kancah peng-On Air-an. Seperti Sandy PAS, Jimi Multhazam, Lukman Superglad, Wendi Putranto, Denny Sakrie, Raldi Boy, Silva, May, dst.

Terima kasih kepada mereka yang telah membawa nyawa baru bagi acara ini. Terlebih lagi, mereka mampu membuat suasana menjadi lebih hidup.

Dan, mengapa saya merasa kehilangan Radio Show?

Mungkin bukan hanya saya yang merasa kehilangan. Mungkin juga bukan hanya para penonton. Tetapi yang harus diketahui adalah, yang menonton dan menikmati acara ini bukan hanya dari kalangan penikmat musik saja. Bukan hanya dari sekelompok orang yang gemar memakai baju hitam dengan anting dan tato di tubuhnya, bukan hanya para remaja, para pekerja, dan juga para pengangguran. Bahkan tidak sedikit orang tua atau orang yang sudah ‘berumur’ menyaksikan acara ini. Mungkin sekedar mengenang masa mudanya, ketika ia masih merasa menjadi 'rocker'. Atau sekedar menghibur diri dan mencari wawasan tentang perkembangan musik di negara ini.

Juga banyak situs dan media cetak musik yang teruntungkan, sebab jadwal penayangan Radio Show yang setiap hari membuat para jurnalis semakin mudah untuk mendapatkan berita atau wawancara. Bahkan sudah banyak komunitas-komunitas yang terangkat namanya melalui program acara ini. Seperti komunitas fotografi, backpacker, pecinta buku, juga para seniman seni rupa pun mempunyai wadah untuk mengenalkan karya, visi, dan misi mereka kehadapan masyarakat.

Seperti yang terlihat di situs tvOnenews - Radio Show, masyarakat maupun musisi kerap menanyakan hal yang sama, "Bagaimana caranya agar band kami bisa main di Radio Show?" bukankah itu sebuah pertanda, bahwa acara ini bukan hanya sekedar 'penghibur', tetapi acara ini telah menjadi sebuah harapan bagi orang banyak. Layaknya budaya POP, yang dikenal, dikagumi dan dibutuhkan.

Dan apabila sesuatu hal yang sudah terlanjur dikenal, dikagumi, dan terlanjur dibutuhkan, mendadak harus dihentikan atau dimatikan, apakah kita sebagai penikmatnya tak boleh bersedih? Atau merasa kehilangan? Sebab sesuatu itu sudah membuat kita terbiasa. Sesuatu itu telah menjadi candu untuk kita di setiap malam. Dan sesuatu itu adalah, Radio Show.

Lihat, betapa uniknya acara ini, sehingga penonton tak hanya menyukai, tetapi juga mencintai Radio Show.

Radio Show berhasil menyajikan acara musik yang berbeda di tengah kompetisi tayangan televisi yang sangat monoton. Radio Show berhasil membuat paradigma baru untuk dibagikan ke masyarakat Indonesia. Agar masyarakat tahu bahwa musik di negara ini sangatlah beragam, layaknya Indonesia dengan berbagai suku dan kebudayaannya.




Pada saat detik-detik Radio Show akan dimatikan, semua pembawa acara hadir di atas panggung. Saling bercanda, saling tertawa, mungkin untuk menyembunyikan sedih, mungkin juga untuk merayakan hari akhirnya di acara ini. Namun sepertinya Sandy PAS bukan orang yang pandai bersembunyi. Sebab, walau mulutnya membungkam kata-kata, namun air matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan.

"...jadi sejarah..." Kata Jimi Multhazam.

"Berhenti bukan berarti mati." Ucap Andra.

Maka mereka semua saling berpelukan di atas panggung. Sungguh suasana yang sangat menyentuh. Semua pembawa acara terlihat sangat ‘lunak’ hatinya, diatas panggung yang terasa keras.

Mengapa keras? Sebab musik keras yang mencuat dari sound system semakin menyulutkan keadaan, seolah semua orang yang berada di bawah panggung sedang berpesta untuk memeriahkan seremoni penutupan acara Radio Show. 'Tuhan Telah Mati' menjadi lagu penutup di akhir acara Radio Show. Maka, untuk kali ini, mari kita meyakini bahwa Tuhan tidak benar-benar mati dan doa kita akan dikabulkan oleh Nya untuk menghadirkan kembali Radio Show di Season 2.